Program Loyalti F&B: Kenapa Stamp Sederhana Ngalahin Poin Ribet
Kartu poin sering mati sebulan setelah launching. Pola yang jalan di F&B justru stamp sederhana, ini alasannya, plus cara ngejalaninnya tanpa kartu fisik.
Hampir tiap owner F&B pernah nyoba program loyalti. Hampir semuanya juga pernah liat programnya mati pelan-pelan: kartu ilang, staf lupa nyetempel, customer males ngitung poin. Masalahnya bukan di niat, di desain.
Kenapa poin gagal di F&B
Sistem poin didesain buat belanja bernilai besar dan jarang (maskapai, e-commerce). F&B kebalikannya: transaksi kecil dan sering. Customer nggak mau mikir "belanja 50rb dapet 5 poin, 200 poin dapet apa ya" buat kopi 25 ribu. Beban kognitifnya kegedean buat nilai segitu.
Stamp motong semua itu: dateng = satu stempel, sepuluh stempel = gratis satu. Anak SD ngerti. Dan karena gampang dingertiin, dia gampang ditawarin, staf cukup bilang "udah 7 nih, 3 lagi gratis".
Syarat biar stamp-nya hidup
- Digital, bukan kartu fisik, kartu ilang = progres ilang = customer kesel. Stamp nempel di nomor HP.
- Otomatis kestempel dari kedatangan yang kecatet, jangan gantung di ingatan kasir.
- Progresnya keliatan sama customer ("3 lagi gratis!"), angka yang keliatan itu yang bikin balik.
- Reward-nya deket, 8-10 kedatangan maksimal. Reward yang butuh 6 bulan itu bukan program loyalti, itu pajangan.
Dari stamp ke mesin balikan
Stamp itu baru setengah cerita. Karena tiap stempel = kedatangan yang tercatat, lo sekarang tau siapa regular yang tiba-tiba dua minggu nggak muncul, dan bisa nyapa mereka duluan lewat campaign yang keukur berapa rupiah baliknya. Di Welkam, stamp, CRM, dan campaign itu satu loop; aktifinnya nggak sampai 10 menit.
Praktikin langsung di outlet lo
Yang lo baca barusan bukan teori, semuanya fitur yang udah jalan di Welkam. Mulai gratis, tanpa kartu kredit.