Banyak program loyalti F&B mati pelan-pelan. Kartu hilang, staf lupa menstempel, pelanggan malas menghitung poin. Penyebabnya ada di desain program.
Kenapa poin gagal di F&B
Sistem poin cocok untuk belanja besar yang jarang, seperti tiket pesawat. F&B sebaliknya. Transaksinya kecil dan sering. Pelanggan malas menghitung "belanja Rp50.000 dapat 5 poin, 200 poin dapat apa ya" demi segelas kopi Rp25.000.
Stempel lebih sederhana. Datang berarti satu stempel, sepuluh stempel berarti satu gratis. Staf cukup bilang, "Sudah 7 stempel, tinggal 3 lagi dapat gratis."
Syarat supaya stempelnya hidup
- Digital, tanpa kartu fisik. Kartu yang hilang membuat progres hilang. Stempel digital menempel ke nomor HP tamu.
- Masuk dari kunjungan yang tercatat di Waitlist atau Reservasi, jadi tidak bergantung pada ingatan staf.
- Progresnya kelihatan oleh pelanggan, misalnya "Tinggal 3 stempel lagi". Di Welkam, kartunya tampil di halaman tiket.
- Hadiahnya dekat, paling jauh sekitar 10 kunjungan. Hadiah yang baru bisa diambil setelah 6 bulan terasa seperti pajangan.
Dari stempel ke alasan untuk kembali
Stempel baru setengah cerita. Tiap stempel berarti satu kunjungan tercatat, jadi Profil tamu bisa menunjukkan pelanggan rutin yang mulai jarang datang. Sapa mereka lewat WhatsApp CRM. Hasilnya terlihat di Riwayat campaign: pesan yang sampai, yang dibaca, dan tamu yang datang lagi selama kode promo berlaku. Tamu yang membalas BERHENTI PROMO atau mencabut izin promo tidak dikirimi.
Di Welkam, Loyalty & stempel mencatat kunjungan dan hadiahnya. Program Stempel bawaannya mati. Nyalakan di Pengaturan, lalu pilih cara stempel masuk: tiap kunjungan, atau tiap struk di atas minimal yang diperiksa staf. Hadiah ditukar di Tukar Hadiah, dengan kode dari HP tamu atau nomor HP yang disebut tamu ke staf.
Baca juga: aplikasi waiting list restoran.