Laporan penjualanmu hanya mencatat orang yang berhasil membeli. Tamu yang datang untuk makan lalu pergi karena waitlist panjang tidak tercatat di mana pun. Padahal mereka sudah sampai di depan pintumu. Persentase tamu seperti ini disebut walk-away rate.
Cara menghitung kasarnya
Pilih satu jam paling ramai. Minta satu orang menghitung dua hal: berapa tamu yang mencoba bergabung ke waitlist, dan berapa yang pergi sebelum dilayani. Bagi angka kedua dengan angka pertama. Hasilnya walk-away rate outlet kamu. Ulangi di jam yang sama beberapa hari, karena satu malam bisa menipu.
Lalu kalikan tamu per hari ramai × walk-away rate × belanja rata-rata × jumlah hari ramai dalam sebulan. Hasilnya perkiraan omzet yang bocor tiap bulan. Kalau malas menghitung manual, isi angkanya di kalkulator omzet bocor.
Di Welkam, tab Operasional di Insights sudah menghitung tamu yang mengambil nomor lalu batal atau tidak hadir. Tamu yang pergi sebelum mengambil nomor tetap harus kamu hitung sendiri.
Kenapa orang menyerah
Tamu biasanya pergi karena tidak pasti. Barisan tidak kelihatan ujungnya, giliran entah kapan, dan meninggalkan barisan berarti kehilangan tempat.
Waitlist di HP menjawab ketiganya. Tiket menulis posisi tamu, misalnya "3 grup di depanmu", dan angkanya bergerak sendiri. Setelah tamu menyalakan notifikasi di tiketnya, HP berbunyi saat giliran dekat dan saat dipanggil. Di paket Pro, tamu yang memintanya juga dikabari lewat WhatsApp. Di iPhone, tiket perlu dibuka di Safari dan ditambahkan ke Layar Utama agar kabar masuk saat layar terkunci.
Daftarnya sendiri tidak jadi lebih pendek. Yang berubah adalah rasa menunggunya. Tamu tahu posisinya dan bebas mengerjakan hal lain.
Untuk memberi tamu alasan bertahan, nyalakan Hadiah Menunggu. Pemilik menetapkan hadiah menurut lama menunggu, dan tamu memilih satu hadiah dari tahap yang tercapai. Cara kerjanya ada di halaman Waitlist.
Baca juga: aplikasi antrian restoran dan cara mengurangi antrian panjang.